Money

Apakah Metode 50/30/20 Masih Efektif untuk Mengatur Keuangan di 2026?

Jakarta (KABARIN) - Di tengah lonjakan biaya hidup, inflasi medis, dan meningkatnya tren langganan digital, menjaga kesehatan finansial menjadi tantangan yang semakin nyata. Kondisi ini membuat banyak orang mempertanyakan apakah metode pengelolaan keuangan 50/30/20 masih relevan digunakan atau perlu disesuaikan dengan strategi yang lebih adaptif.

Metode 50/30/20 yang diperkenalkan oleh Elizabeth Warren membagi pendapatan bersih ke dalam tiga pos utama, yakni 50 persen untuk kebutuhan pokok (needs), 30 persen untuk keinginan (wants), dan 20 persen untuk tabungan atau investasi (savings/investment).

Skema ini selama ini dinilai sederhana dan membantu pengelolaan keuangan jangka panjang tanpa tekanan berlebihan.

Namun, pada 2026, kenaikan harga kebutuhan pokok seperti pangan, hunian, hingga layanan digital membuat porsi kebutuhan sering kali melampaui batas 50 persen. Karena itu, sejumlah penyesuaian dianggap perlu agar tetap realistis.

Strategi Modifikasi Anggaran yang Lebih Fleksibel

Dalam praktiknya, metode 50/30/20 tetap bisa digunakan, tetapi tidak harus kaku. Penyesuaian persentase menjadi langkah yang lebih realistis sesuai kondisi keuangan masing-masing individu.

Dua alternatif yang dapat diterapkan adalah skema 60/20/20 atau 70/10/20. Dalam kedua skema tersebut, porsi kebutuhan disesuaikan dengan kondisi pengeluaran, sementara tabungan tetap dijaga.

Hal yang paling penting adalah tetap mengamankan alokasi masa depan sebesar 20 persen untuk tabungan atau investasi. Sementara itu, pos keinginan perlu dikontrol lebih ketat, termasuk pengeluaran hiburan dan gaya hidup yang tidak esensial.

Pentingnya Konsistensi Menabung dan Investasi

Salah satu kunci utama dalam pengelolaan keuangan adalah disiplin dalam mengalokasikan dana tabungan. Idealnya, dana investasi langsung dipisahkan saat menerima penghasilan, bukan menunggu sisa di akhir bulan.

Pendekatan ini membantu memastikan target keuangan jangka panjang tetap tercapai secara konsisten, meskipun kondisi pengeluaran bulanan berubah.

Aplikasi Digital untuk Pengelolaan Keuangan

Untuk mendukung pengelolaan anggaran yang lebih praktis, penggunaan aplikasi digital dapat menjadi solusi. Salah satunya adalah Tring! by Pegadaian yang memungkinkan pengguna mengatur keuangan sekaligus berinvestasi emas mulai dari nominal kecil.

Aplikasi ini juga telah mengantongi izin OJK sehingga dapat digunakan sebagai sarana pengelolaan dana yang lebih aman dan terstruktur.

Dengan bantuan teknologi, pengelolaan keuangan pribadi diharapkan menjadi lebih disiplin, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat.

Pewarta: PR Wire
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: